Era Digital Dalam Kaca Mata Anak 90an

Dua ribu delapan belas, angka yang cukup besar menunjukan berapa tahun manusia modern tinggal di bumi ini, dekade dan abad di lalui dengan masa emas nya masing masing, usiaku sendiri 33 tahun, tak cukup di bilang tua untuk orang orang seusiaku yang saat ini, istilah jaman naw di kenal sebagai genersi Y. Tapi tak cukup di bilang muda, karena masih ada generasi X, Z, Alpha, Betta, Gamma dan entah sebutan apalagi untuk anak anak dan cucu kita nanti.

Gen-Z, cukup keren kedengerannya dan lebih keren lagi ketika fakta bahwa kami lahir di era 80 an, menjalani kehidupan bocah di era 90 an, dan menjadi dewasa di era milenia, perfect life. Masa kecil kami di jejali imajinasi imajinasi yang menjadi inspirasi bagi kehidupan masa datang. Minggu kami di habiskan untuk Doraemon si robot kucing, Satria baja Hitam (RX,ROBO,BIO), Power Rangers, yonkuro. dan rela kami berdesak desakan di rumah teman yang punya tv di lengkapi parabola. Perfect life.

Baiklah untuk saat ini sebut saja kami kaum milenial, kaum yang begitu ramai di perbincangankan karna merubah pola kehidupan, kata umat umat kami terdahulu sih kami membuat era distrupsi, kerjaan kerjaan yang ga di anggap jadi kerjaan yang menjanjikan, kerjaan yang tadinya bergengsi tidak lagi menjadi sensasi, siapa sangka bekerja sebagai mamang ojek jadi salah satu pekerjaan yang bergengsi dan banyak di nanti tanpa memandang pendidikan dan keahlian, selesai menempuh pendidikan dasar sampai pendidikan tinggi kemudian memilih menjadi penjual martabak, Membuka gerai teh thailand yang ternyata buatan bogor, sampe kerjaan “haiii gaeeeesssss” yang udah jadi profesi yang di cita citakan anak SD. Yappss demi satu kalimat “Gua Boss Bukan karyawan dan bukan Kaleng Kaleng”

Sekarang kami sudah dewasa, sebagian dari kami bekerja, sebagian lagi hidup tanpa rutinitas kerja tapi cukup membiayai rutinitas belanja, sebagian nikah muda, sebagian lagi harus malu menanggung predikat perjaka. Sebagian orang menikmati alur hidup dan segala fasilitasnya, sebagian lagi harus memburu inovasi untuk menciptakan fasilitas bagi manusia. Yapsss. Inovasi bagi fasilitas manusia. Imajinasi masa kecil kami terus membayangi hingga tampil sebagai aplikasi dalam kehidupan nyata kami.

Yaps Imajinasi Masa Kecil, Bukankah Drone dan Baling Baling Bambu punya kesamaan, permen karet penerjemah milik doraemon di adopsi dalam mic penerjemah yang basisnya google translate, satelit pengintai pribadi jadi nano satelite, alat pencetak gambar jadi bentuk nyata alias printer 3D. robot robot dalam film udah di produksi secara masal, walau sepertinya sangat sulit untuk membuat motor yang kita kendarai saat ini jadi mirip seperti belalang tempur.

Industri 4.0 istilah yang di sampaikan agan agan di perguruan tinggi, kelurahan hingga pemerintah, bagi kami istilah itu terdengar horor, ketika pekerja manusia di ganti robot oleh sang pemilik pabrik, mbak mbak manis penjaga tol harus pergi karena di ganti kartu, bank bank sudah mulai sepi lowongan pekerjaan, uang ga lagi di cetak tapi cukup di ketik untuk masuk ke database, teler berubah jadi aplikasi banking yang ga kenal waktu kerja. Bentar lagi ga ada orang kerja di bioskop, mau nonton di bioskop dari rumah langsung nyelonong masuk teater, karena udah booking dan bayar dari rumah, dan kedepan hampir semua kerjaan yang kami geluti saat ini akan hilang bagai perasaan sayang mantan pada kita. ga ada tukang parkir, ga ada mbak mbak kasir mini market, ga ada resepsionis, ga ada supir, bahkan yang nyuci, gosok baju, nyapu, semua beres sama robot, asik juga sihh, asal jangan sampe ada robot yang bisa ngomong “Hasta la vista beibeeeh” dan tampangnya mirip Arnold Schwarzenegger. Hanya satu keyakinan yang kami pegang bahwa rejeki seseorang udah di atur sama tuhan.

Dan tibalah kami di era baru, era digital yang mempengaruhi semua lini kehidupan dan generasi, pendidikan, pekerjaan, kehidupan sosial, permainan, sampai urusan jodoh dan percintaan memasuki era yang anyar. Hari ini kesuksesan seseorang di lihat dari berapa followers Instagram, youtube Subscriber, jumlah pengikut di facebook, twitter dan tumpukan bitcoin yang dimiliki. Bukan tidak mungkin goyangan janggal yang kita lakukan menjadi jalan untuk terkenal dan fenomenal.

Meraih kekayaan dengan popularitas sesaat bukan hal yang tabu di era sekarang, penyanyi beneran dan penyanyi coveran saling bersaing merebut pasar, sinema elektronik dan sinema lucu lucuan di instagram beradu rating di mata penggemar. yang pemalu pun berhak eksis melalui tulisan, pilihan membuat blog untuk menjadi kaya bukan isapan jempol belaka, blogger blogger jutawan telah beranak pinak dalam beberapa tahun terakhir, sharing bagaimana Cara membuat blog kemudian monetize blog, berbagi sukses melalui blog sudah jadi kebiasaan yang sulit di hilangkan. hasil bulanan puluhan bahkan ratusan juta tak sebanding dengan Hosting murah yang di keluarkan sebagai modal.

Berbicara kemudahan ga perlu lagi di bahas mendalam, semua yang kita perlukan ada dalam genggaman, semua keperluan diselesaikan dengan 2 jari dan cukup kuota. Kemudahan ini yang memunculkan anggapan orang jaman sekarang jadi pemalas, semua tinggal klik, dari beli makanan hingga celana dalam sudah sangat enggan di lakukan. Yapp jadi pemalas, tapi saya SANGAT TIDAK SETUJU dengan anggapan itu. Distribusi pekerjaan yang kita lakukan membuat kita memiliki ruang dan waktu untuk di isi dengan pekerjaan lain, waktu untuk perjalanan dan antri di gerai ayam goreng, sudah cukup untuk melahirkan kreatifitas yang mungkin akan laris di goreng.

Hiburan virtual yang di kembangkan memberikan opsi untuk mendapat kesenangan, dunia game yang semakin gempita melahirkan cabang olah raga baru yang di tarungkan sampai tingkat dunia. Makin banyak artis dengan bakat luar biasa yang lahir dari desa yang tidak ternama. Gelar selebriti dapat di raih dengan akun instagram, dan kemampuan Lip sync dengan lagu lagu yang enak di dengar. Dalam bisnis ini akun akun gosip seperti “bibir lebih” (baca dengan bahasa jawa) dan teman temannya menjadi dewa yang menentukan keberhasilan seorang selebgram. Youtube menjadikan tv hanya sebagai pemanis ruangan, Apa mau di kata Internet semakin terjangkau dan berisi berbagai tayangan menarik, mendidik bahkan tayangan yang tak lulus sensor semua ada di media video online tersebut. dan terkadang tv hanya menjadi teman selama kita chatiingan, atau teman saat menunggu keajaiban balasan chat dari dia yang selalu di read doang siang dan malam.

Nahhh satu lagi yang seru dari era digital, politik..

Politik menjadi Tontonan yang selalu seru dan di tunggu, nikmatnya menghujat, gurihnya perkelahian kata kata, manis nya ka umpatan selalu hadir dalam tayangan tayangan politik dari netijen yang selalu benar, entah dari mana asal nya, kampanye melalui media sosial menjadi pilihan banyak orang, walaupun media sosial jadi sasaran empuk hatters untuk melancarkan aksi kampanye hitam. Kami hanya berharap pertarungan anak katak dan anak kelelawar cepat berakhir dan sosial media kembali menjadi tempat yang sejuk damai dan berisi kenangan kenangan cinta yang belum tergapai.

Yappp, dunia doraemon jadi kenyataan keseruan dalam tayangan sudah ada di hadapan. Kecanggihan teknologi digital harusnya mendorong manusia lebih kreatif dan bijaksana menggunakannya. Generasi milenial di beri pilhan yang berat, menjalani kehidupan normal sebagai user yang di rantai oleh teknologi, atau menjadi pendobrak yang menciptakan berbagai perubahan.

Era 90 an masih mengesankan, disaat teknologi hanya sebatas tersier yang di nikmati oleh segelintir jutawan. Kesenangan bisa di dapat dari seutas benang dan layang layang, kini masa itu telah di tinggalkan. Teknologi jadi kebutuhan premier, pengeluaran pulsa dan kuota sebanding dengan bahan pangan lainnya. Era digital menjadi keharusan, karena itu tidak cukup menjadi penikmatnya, kita harus menjadi pemainnya. Mari membuat perubahan

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *